Selasa, 27 September 2016

Makalah Defisiensi Vitamin C pada Anak Usia Dini


DEFISIENSI VITAMIN C PADA ANAK USIA DINI

Oleh:
Dwi Wahyuni (A1F114029)

Dosen:
Elmanora, S.Si, M.Si
Drs. Haryanto, M.Kes




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU PAUD
  FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2016

SURAT PERNYATAAN


Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama     : Dwi Wahyuni
NIM       : A1F114029
Dengan ini menyatakan bahwa makalah yang berjudul “Defisiensi Vitamin C pada Anak Usia Dini” adalah benar karya saya (bebas dari plagiarisme). Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir makalah ini, saya bersedia mempertanggungjawabkannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Jambi, September 2016
Yang menyatakan,


Dwi Wahyuni
NIM: A1F114029






 




BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Wikipedia (2016) vitamin adalah senyawa organic berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme. Karena itu vitamin memiliki peranan penting di dalam tubuh dan memberikan mamfaat kesehatan. Bila kadar vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh tidak tercukupi, tubuh akan mengalami suatu penyakit dan menganggung proses kerja tubuh kita. Salah satu bentuk penyakit kekurangan vitamin adalah defisiensi vitamin C yang begitu rentan terjadi di masyarakat dan anak usia dini. Tentunya hal itu sangatlah tidak diharapkan, karena setiap orang mengkhendaki agar keturunannya tumbuh dengan sempurna dan sehat, baik secara fisik dan psikisnya.

1.      Apa definisi defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
2.      Apa penyebab defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
3.      Apa dampak defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
4.      Bagaimana cara menanggulangi defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
5.      Bagaimana cara mengatasi defisiensi vitamin C pada anak usia dini?




1.      Manfaat bagi penulis ialah mampu membagikan pendapatnya, pengetahuannya dalam hal defisiensi vitamin C, untuk masyarakat disekitarnya baik itu mahasiswa, guru, maupun orang tua anak usia dini.
2.      Manfaat bagi pembaca baik itu orang tua, guru, maupun mahasiswa dapat menambah pengetahuannya tentang defisiensi vitamin C, untuk mencegah terjadinya defisiensi vitamin C terhadap anak usia dini.



BAB II

PEMBAHASAN

Menurut DPN (2001) defisiensi vitamin C berasal dari kata defision yang berarti tidak sempurna atau kurang baik, vitamin yang artinya zat sangat penting bagi tubuh manusia dan hewan untuk pertumbuhan dan perkembangannya, dan vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air yang biasanya terdapat dalam buah segar dan sayuran berwarna hijau. Dari hal tersebut dapat disimpulkan secara bahasa defisiensi vitamin C merupakan suatu keadaan dimana tubuh manusia kekurangan vitamin C yang penting bagi tubuh untuk tumbuh dan berkembang.
Menurut Puzeaa, P yang menyatakan vitamin C terlihat seperti Kristal putih, yang merupakan sebuah asam organic dan rasanya asam, namun tidak menimbulkan bau yang tak sedap. Dalam larutan, vitamin C mudah rusak karena oksidasi oleh oksigen dari udara, namun lebih normal jika terdapat dalam bentuk kristal kering.
Menurut Vivi. T (2006) bentuk aktif vitamin C adalah asam askrobat yang berfungsi sebagai donor ekuivalen produksi dalam sejumlah reaksi penting tertentu. Asam askorbat itu sendiri dioksidasi menjadi asam dehidroaskrobat, yang dapat bertindak sebagai suber vitamin tersebut.  Asam askrobat merupakan zat pereduksi dengan potensial hydrogen +0,008 V, sehingga mampu mereduksikan senyawa-senyawa seperti oksigen molekuler, nitrat, dan sitokrom a serta c.
American Collage Of Nutrition (2003) menunjukkan beberapa bukti bahwa vitamin C adalah antioksidan yang sangat kuat dalam system biologi in vitro. Tetapi antioksidan berperan pada manusia tidak didukung sekarang ini digunakan studi klinik. Nutrisi tinggi pada buah dan sayur melindungi terhadap penyakit jantung dan urat-urat darah serta kanker, tetapi efek melindungi tidak dapat dianggap berasal dari vitamin C. di dalam vivo penanda dari kerusakan oksidasi telah ditingkatkan, dan ini belum menunjukkan perubahan besar dengan vitamin C yang dikonsumsi manusia.
Menurut Sukendro (2015) & Siswanto, H (2010) Vitamin C ditemukan oleh A.Sient, P.Gyorgy dan G.King (1932). Vitamin C dapat dijumpai pada buah-buahan yang berwarna seperti jeruk , tomat, papaya, dan sayuran hijau segar yang mempunyai kadar rendah. Pada buah-buahan yang tergolong vitamin C terdapat dalam konsentrasi yang tinggi pada kulitnya, pada bagian dalam buahnya agak lebih rendah, dan pada bagian bijinya sangat rendah. Jika vitamin C dalam konsentrasi yang cukup tiggi dapat mengurasi resiko terkena penyakit degenerative seperti penyakit jantung koroner, kanker, hipertensi, dan diabetes mellitus, serta bisa menghaluslkan kulit dan menunda proses penuaan.
Menurut Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (2010)  angka kecukupan gizi vitamin C untuk bayi diperkirakan 35 mg dan untuk orang dewasa adalah60 mg.
Berikut ini tabel angka kecukupan gizi pada vitamin C:
Golongan
Umur
AKG
(mg)
Golongan
Umur (pria)
AKG
(mg)
Golongan umur (wanita)
AKG
(mg)
0-6 bulan
7-12 bulan
1-3 tahun
4-6 tahun
7-9 tahun

30
35
40
45
45
10-12 tahun
13-15 tahun
16-19 tahun
20-45 tahun
46-59 tahun
Ø  60 tahun
50
60
60
60
60
10-12 tahun
13-15 tahun
16-19 tahun
20-45 tahun
46-59 tahun
Ø  60 tahun
Ibu hamil Ibu menyusui:
0-6 bulan
7-12 bulan
50
60
60
60
60
50
+10


+25

+10
Tabel 1. Sumber: LIPI, 1998
By: Ani, P
Dapat disimpulkan definisi defisiensi vitamin C pada anak usia dini adalah kekurangan asupan makanan yang mengandung vitamin C guna menjaga imunitas anak usia dini yang rentan akan penyakit, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi kurang maksimal.

1.     Penyebab defisiensi vitamin C dibidang ekonomi
Ekonomi merupakan  salah satu penyebab baik buruknya gizi anak usia dini. Jika ekonomi seseorang mencukupi maka kebutuhan pokok yang diperlukannya akan tercukupi. Namun, jika sebaliknya dimana ekonomi seseorang itu rendah atau tidak mencukupi maka akan akan sulit untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Ekonomi seseorang yang terbatas akan dapat menyebabkan defisiensi vitamin C, karena kurangnya konsumsi buah-buahan yang segar, dan kurangnya asupan sayuran-sayuran hijau.
Dilihat dari perkembangannya, defisiensi vitamin C menyerang kalangan dengan ekonomi menengah  kebawah. Dari hal ini dapatlah disimpulkan jika ekonomi menjadi faktor penting yang menyebabkan terjadinya defisiensi vitamin C selain faktor pendukung lainnya.


2.      Penyebab defisiensi vitamin C dibidang pendidikan
Defisiensi vitamin C yang terjadi pada anak juga disebabkan karena rendahnya pendidikan atau pengetahuan yang didapat khususnya orang tua. Apabila orang tua tidak paham akan kebutuhan gizi yang diperlukan si anak, maka akan berdampak buruk terhadap gizi anaknya. Contohnya saja dalam hal memasak makanan, merebus sayuran , jika memasak atau merebus terlalu lama dapat menyebabkan berkurangnya kandungan nilai gizi makanan atau sayuran tersebut. Maka dari itu pendidikan dan pengetahuan sangat penting untuk dibekali bagi setiap orang.
Pendidikan yang kurang tentang pentingnya asupan gizi yang seimbang sangatlah perlu untuk menanggulangi terjadi berbagai macam penyakit terutama defisiensi vitamin C. mengapa penting? Hal ini dikarenakan jika telah terkena defisiensi vitamin C akan menyebabkan system kekebalan tubuh menurun dan memudahkan tubuh terserang virus dan bakteri pada pertahanan tubuh yang tidak kuat.

3.     Penyebab defisinsi vitamin C dari pola makan anak
Anak usia dini adalah anak yang memiliki pola makan yang unik. Mereka menyukai makanan mulai dari segi bentuk dan rasa, tanpa melihat kandungan gizi di dalamnya. Pola makan yang memilih makanan sesuai selera menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya defisensi vitamin C, dikarenakan buah dan sayur merupakan makanan yang membutuhkan teknik khusus untuk dibuat menarik dan memancing anak untuk mengkonsumsinya. Apalagi sayur hijau, kebanyakan dari anak tidak menggemari sayuran hijau karena rasanya yang tidak sesuai selera mereka. Di sini peran orang tua sangat besar guna membuat makanan yang sebenarnya penting untuk tumbuh dan kembang anak menjadi menarik dan digemari oleh anak-anak.

Defisiensi vitamin C akan berdampak pada aspek-aspek perkembangan anak, apabila asupan vitamin C yang didapat anak sesuai dengan kebutuhannya, maka akan berdampak baik pada aspek-aspek perkembangannya. Namun, jika asupan vitamin C tidak memenuhi kebutuhan anak maka akan berdampak buruk pada aspek-aspek perkembangan anak. Dan kemudian akan memberikan dampak penyakit-penyakit, antara lain:

1.     Skorbut
Menurut Salter diacu dalam Ani, P Penyakit ini disebabkan kekurangan vitamin C (asam askorbat) dan menyebabkan kekurangan sintesis kolagen, yang ditemukan pada anak yang berusia 6 bulan dan satu tahun. Kasus defisiensi vitamin C ringan, yang memberikan gejala pada jaringan gusi masih dijumpai dikalangan anak-anak sekolah.
Menurut WHO (1991) skorbut pada awalnya ditandai dengan kelelahan, kelesuan, sakit pada otot, atau menunjukkan gejala alergi seperti terlihat perdarahan di permukaan kulit berbentuk titik-titik kecil, disebut hemorrhagia punctata, yang akan semakin lebar dan berbentuk bercak-bercak, disebut peteciha, dan dapat selanjutnya dapat saling berkonfluensi menjadi ecchymosa.
Menurut Sediaoetama, A. D (2008) Defisiensi vitamin C memberikan gejala-gejala penyakit skorbut. Kerusakan terutama terjadi pada jaringan rongga mulut, pembuluh darah kapiler dan jaringan tulang. Skorbut terjadi secara bertahap (sesudah beberapa periode penipisan vitamin C).
Menurut Ani, P adapun gambaran kliniknya adalah:
a.    Irritable, mudah marah
b.    Takipnea (pernapasan abnormal, cepat dan dangkal, > 60/ menit)
c.     Gangguan pencernaan (diare, berat badan menurun)
d.    Nyeri akibat pseudoparalisis dan kaki mengambil posisi kodok (khas), dimana pinggul dan lutut zemi fleksi dengan kaki terputas keluar
e.    Pembengkakan anggota tubuh terutama paha
f.      Perdarahan subperiosteum (dapat diraba pada ujung femur)
g.    Perubahan pada gusi palingnya bila gigi tumbuh, ditandai dengan merah keabu-abuan, pembengkakan seperti spon membrane mukosa, biasanya pada gigi susu (insisivus) atas
h.    Angulasi (tonjolan) atau bercak scorbutic yang lebih tajam dari pada rakhitis
i.      Pendarahan petekhiae dapat terjadi pada kulit dan membrane mukosa. Humaturia, melena dan perdarahan orbital dan subdural dapat ditemukan
j.      Demam ringan biasanya ada
k.    Anemia dapat menggambarkan ketidak mampuan menggunakan besi atau gangguan metabolism asam folat
l.      Penyembuhan luka tertunda.”
     Dapat disimpulkan skorbut merupakan penyakit yang menyerang pada rongga mulut yang terjadi secara bertahap dan dapat menyerang anak usia dini.
2.     Sariawan
Menurut simanjuntak & Kristayanasari diacu dalam Ani, P sariawan (stomatitis) adalah radang pada rongga mulut (bibir dan lidah) yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Menurut Simanjuntak (Ani, 2016) Oral trush adalah lapisan atau bercak-bercak putih kekuningan yang timbul dilidah yang dikelilingi oleh daerah kemerahan. Oral trush/ sariawan terjadi karena disebabkan oleh hal berikut:
a.          Makanan/ minuman panas
b.          Traumatic
c.           Zat kimia”
Oral trush atau sariawan ini juga berbahaya jika merambat ke anak-anak. Emosi yang dimilki anak akan menjadi tidak teratul karena oral trush yang dideritanya. Bisa saja dari Oral trush yang diderita anak dapat merambat kepenyakit-penyakit yang lainnya. Jika anak terkena sariawan biasa anak akan menjadi rewel karena ada yang menggala di dalam mulutnya. Oral trush ini harus segera diatasi agar kondisi anak menjadi lebih baik kembali.
Menurut Ani, P ada tiga jenis sariawan yang sering menyerang anak:
a.    Stomatitis Aphtosa, yaitu sariawan yang terjadi akibat tergigit atau luka karena terbentur dengan benda yang agak keras seperti sikat gigi.
b.    Oral trush/ monoliasis, sariawan yang disebabkan jamur candida albican biasanya banyak dijumpai dilidah
c.     Stomatitik herfetik, yang disebabkan virus herpes simpleks dan berlokasi dibagian belakang tenggorokan.

Gambar 3.  Penderita Penyakit sariawan
By: (Ani  2016)

3.     Gingivitis
Menurut Ani, P gingivitis (radang gusi) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri (Actinomyces, Fusobacterium, Veillonella) dan organisme yang menempati sulkus gusi.”
Menurut Sediaoetama, A (2009) defisiensi vitamin C menyebabkan berbagai dampak pada jaringan lunak di dalam rongga mulut, sebagian bagian dari dampak sistematis. Dampak terjadi pada jaringan lunak gingiva dan tidak pada dinding rongga mulut lainnya maupun pada lidah. Serat-serat yang mengikat radix dentis ke dinding alveolus menjadi putus, maka kedudukan gigi menjadi goyah, bahkin gigi dapat lepas. Pada kondisi sehat, gingival berbentuk licin mengkilap berwarna kemerahan, dengan ujung kapila berbentuk tajam. Pada defisiensi vitamin C yang ringan, papila ini akan terlihat hyperemic dengan kapiler darah yang melebar dan berdinding tipis, dapat menyebabkan mudah berdarah saat tekanan ringan. Di saat kondisi lebih berat, papilla akan menderita infeksi hingga bernanah dan menjadi pendek, bahkan dapat menyebabkan gangguan berbentuk gangraen yang memberikan bau yang busuk atau tak sedap.
Menurut Dalimunte diacu dalam Ani, P Secara umum penyebab penyakit gingival ada dua golongan, yaitu:
a. Faktor local adalah faktor yang berada disekitar gigi, contoh: plak bakteri-karang gigi, partikel makanan yang melekat pada gigi maupun gingival, karies didekat gingival, kebiasaan merokok, dan trauma.
b.    Faktor sistemik adalah faktor yang dihubungkan dengan kondisi tubuh, dapat perpengaruh pada respon periodontium penyebab local. Contoh: faktor hormonal, defisiensi vitamin, mineral protein penggunaan obat-obatan, faktor psikologis.
Berikut ini gambar penyakit gingivitis yang menyerang jaringan lunak dalam rongga mulut:
Gambar 4. Gingivitis margaiis karena plak
By: (Ani, 2016)


Gambar 5. Papilla-papila berkawah: Gingivitis Ulseratif Akut Nekrosis (ANUG)
By: (Ani, 2016)


Gambar 6. Gingivitis Hormonal pada Wanita Pubertas
(By: (Ani, 2016)
Jadi dapat disimpulkan gingivitis adalah penyakit gusi meradang yang terjadi karena kekurangan vitamin C dan dapat ditemukan pada Anak Usia Dini.

4.     Gusi berdarah
“Menurut Winarno diacu dalam Ani, P yang mengatakan gejala defisiensi vitamin C pada rongga mulut ditandai dengan adanya gusi berdarah. Meskipun gejala ini haruslah dapat dibedakan dengan penyakit gusi lainnya yang dapat juga menimbulkan pendarahan pada gusi. Jaringan penyambung gusi sebagian besar terdiri dari serat kolagen yang tersusun rapi keberbagai arah yang akan menyangga gigi dengan baikselama berfungsi. Untuk mempertahankan struktur gigi yang sehat maka diperlukannya ikatanyang erat antara jaringan yang menyusun struktur gigi tersebut.”

Gusi berdarah mungkin sering kita temukan termasuk anak-anak. Terkadang gusi berdarah juga disebabkan karena menyikat gigi yang kurang hati-hati. Anak-anak kecil seharusnya harus diawasi dalam hal menyikat gigi, agar bisa menghindari kejadian gusi berdarah.

5.     Pewarisan pembekuan darah
Menurut Griffin, dkk keluarga dengan sejarah pembekuan darah telah dipelajari untuk menentukan jika kekurangan protein plasma dapat menjadi alasan untuk penelitian penyakit ini. Tingkat vitamin C dalam plasma telah ditentukan ilmu kekebalan tubuh dengan mengunakan teknik roket Laurell. Usulan ayahnya, dan paman pihat ayahnya  seseorang dengan masing-masing pengaruh, memiliki 38%-49% level normal dari antigen vitamin C, dimana tidak mempengaruhi keluarga kekurangan antithrombil III dan plasminogen. Karena zat aktif vitamin C manjur dalam vitro anti-zat pembekuan dan pada sebuah in vivo profibrinolitik agen, ini dianjurkan bahwa penyakit pembekuan darah kambuh  di dalam keluarga adalah  warisan dari defisiensi vitamin C.
Jadi pembekuan darah ada kemungkinan menurun kepada anak yang penyebab awalnya tinggat vitamin C dalam plasma menurun.




1.   Mengkonsumsi buah-buahan segar yang mengandung vitamin C
Buah-buahan sangat penting untuk asupan vitamin manusia. Sumber utama dari vitamin C ialah buah-buahan segar dan juga berupa minuman sari buah. Jeruk merupakan sebagian bahan utama pembuatan sari buah setelah anggur. Buah jeruk mengandung asam sitrat, dan tak diragukan lagi kalau yang diandalkan dari sari buah jeruk adalah vitamin C. Namun, vitamin C dalam kemasan sari buah bisa mengalami kerusakan karena kandungan residu oksigen yang tinggi sehingga vitamin tersebut teroksidasi menjadi bentuk lain.  Temperatur penyimpanan yang tinggi dapt juga merusak vitamin C.
Bahan Makanan
Mg
Jambu monyet
Gandaria
Jambu biji
Papaya
Mangga muda
Rambutan
Durian
Kedondong
Jeruk manis
Mangga masak
Jeruk nipis
Nanas
197
110
95
78
65
58
53
50
49
41
27
24
Tabel 2. Daftar Analisis Bahan Makanan
By: Ani, P



2.   Mengkonsumsi sayuran-sayuran hijau
Selain dari buah-buahan, sayuran juga penting bagi asupan vitamin C anak, agar anak-anak dapat terhindar dari defisiensi vitamin C. Berikut ini ada jenis sayuran yang baik untuk asupan nilai gizi vitamin C ke anak, yaitu:
Table. Nilai Vitamin C berbagai  bahan makanan dalam 100gr

Bahan Makanan
Mg
Daun singkong
Daun katuk
Daun melinjo
Daun papaya
Sawi
Kembang kol
Bayam
Kol
Kemangi
Tomat
Kangkung
Ketela pohon

275
200
150
140
102
65
60
50
50
40
30
30

Tabel 3. Daftar Analisis Bahan Makanan
By: Ani, P

3.   Mengkonsumsi suplemen vitamin C
Menurut Penelitian Bailey at al (2011) suplemen bernutrisi meningkat penggunaannya sejak 1970. Pengguanan suplemen diukur dengan kuisioner dan laporan  dari 49% dari warga Amerika (44% pria, 53 % wanita).
Vitamin C banyak dijual dalam bentuk suplemen yang memiliki sebagian dari kekayaan antioksidan. Vitamin C salah satunya diatur oleh suplemen untuk kesehatan manusia memperlihatkan prooksidan sama baiknya dengan anti oksidan.
Berdasarkan penelitian Division of Chemical Pathology University of Leicester LE1 9NH (1998) telah dilaksanakan sebuah studi  yang menyertakan 30 relawan yang sehat (16 wanita dan 14 pria dengan umur antara 17 hingga 49 tahun) yang mengkonsumsi suplemen vitamin C sebanyak 500 miligram per hari selama 6 minggu. Penilaian  tingkatan kerusakan oksidasi  pada darah kelenjar getah bening dalam hubungan dengan modifikasi berbasis DNA. Pada level 8-oxoguanine ditemukan pengaruh suplemen relative untuk kedua placebo (kalsium carbonat; 500 mg per hari selama 6 minggu) dan garis dasar ukuran, di mana pada level 8-oxoadenine meningkat. Untuk setiap relawan diambil sampel darah tiap 3 minggu pada 12 minggu.  Suplemen majana dengan 500 mg vitamin C per hari menunjukkan peningkatan signifikan pada ascrobate level pada plasama (hingga 60%) sebanding dengan sebelum pemberian suplemen dan kematianplacebolam placebo. Perbedaannya, tidak ada perubahan pada konsentrat askrobate selama waktu terapi oral placebo dibandingan dengan hukum garis awal. Walaupun antioksidan alami vitamin C masih dipertanyakan di dalam vivo, namun suplemen dengan dosis vitamin c 500 mg per hari sama seperti antioksidan. Peneliti telah menemukanpeningkatan potensial mutagenic luka, 8-oxoadnine, mengikuti tipikal suplemen vitamin C untuk itu perlu diperhatikan, walaupun pada dosis sedikt dari 500 mg per hari efek antioksidan mungkin lebih mendominasi.
Disini bisa ditarik kesimpulan bahwa penggunaan suplemen vitamin C dengan kadar yang tepat dan baik bagi tubuh. Sehingga sebelum mengkonsumsi suplemen vitamin C hendaklah berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter.

E.      Cara Mengatasi Defisiensi Vitamin C Pada Anak Usia Dini
Menurut Ani, P yang mengatakan penanggulangan yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat untuk menanggulangi permasalahan defisiensi vitamin C ialah:
Dengan adanya solusi dari pemerintah dalam mengatasi defisiensi vitamin, setidaknya dapat mengurangi penderita defisiensi vitamin C tersebut. Dan kesehatan masyarakat bisa lebih membaik dari sebelumnya.

 




BAB III

PENUTUP

Defisiensi vitamin C pada anak usia dini merupakan kurangnya asupan vitamin C yang didapat anak. Yang disebabkan oleh faktor ekonomi, pendidikan, dan pola makan. Apabila anak kekurangan vitamin C, tentu mempunyai dampak yang buruk terhadap aspek-aspek perkembangannya dan selanjutnya akan menimbulkan penyakit seperti, skorbut, sariawan, gingivitis, gusi berdarah, dan pewarisan pembekuan darah. Untuk cara mengatasi defisiensi vitamin C ada beberapa cara yang telah dilakukan oleh pemerintah. Dan untuk cara menanggulanginya, penderita dapat mengkonsumsi buah-buahan segar dan sayuran hijau, serta mengkonsumsi suplemen vitamin C sesuai anjuran dokter.

Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber referensi bagi pembaca dalam menambah pengetahuan tentang Defisiensi Vitamin C pada Anak Usia Dini.

DAFTAR PUSTAKA

(DPN) Departemen Pendidikan Nasional. (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
American College of Nutrition. (2003). Vitamin C as an Antioxidant: Evalution of Its Role in Disease Prevantion. America: Journal of the American Collage of Nutrition, Vol. 22, No 1, 18-35.
Ani, P. _______. http://www.academia.edu/17563415/DEFISIENSI_VIT_C. Defisiensi Vitamin C.
Bailey, Et. Al. (2011). Dietary Supplement Use in the United States, 2003-2006. America: American Society for Nutrion. doi: 10. 3945/JN. 110.  133025.
Departemen Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. (2010). Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Division of Chemical Pathology University of Leicester LE1 9NH. (1998). Vitamin C Exhibits Pro-Oxidant Properties. UK: Nature Vol 392.
Griffin J.H., B. Evatt, T. S., Zimmerman, A. J., Kleiss., & C. Wideman. (1981). Deficiency of Protein C in Congenital Thrombotic Disease. America: J. Clin. Invest. The American Society For Clinical Invertigation, Inc 0021-9738/81/11/1370/04 Vol. 68, 1370-1373.
Karjono, A,. dkk. (2016). https://id.m.wikipedia.org/wiki/Vitamin. Vitamin.
Khomsan, A. (2010). Pangan dan Gizi untuk Kesehatan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Muchtadi, D. (2011). Gizi Anti Penuaan Dini. Bandung: Alfabeta.
Puzeaa, P. ________. http://www.academia.edu/8738878/analisis_vitamin_c. Analisis Vitamin C.
Sediaoetama, A. D. (2008). Ilmu Gizi (jilid I). Jakarta: Dian Rakyat.
Sediaoetama, A. D. (2009). Ilmu Gizi (jilid II). Jakarta: Dian Rakyat.
Siswanto, H. (2010). Pendidikan Kesehatan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Pustaka Rihama.
Vivi, T. (2006). Macam-Macam Vitamin Dan Fungsinya Dalam Tubuh Manusia. Studi Literatur. Jurnal Kesehatan Masyarakat, I (1)

(WHO) World Health Organization. (1991). International Nomenclature Of Diseases. Geneva: Methabolic, Nutritional, and Endocrine Disorders Vol IV World Health Organization. 1991, p. 283.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar