DEFISIENSI
VITAMIN C PADA ANAK USIA DINI
Oleh:
Dwi Wahyuni (A1F114029)
Dosen:
Elmanora, S.Si, M.Si
Drs. Haryanto, M.Kes
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU PAUD
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
JAMBI
2016
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah
ini:
Nama : Dwi Wahyuni
NIM : A1F114029
Dengan ini menyatakan bahwa
makalah yang berjudul “Defisiensi Vitamin C pada Anak Usia Dini” adalah benar
karya saya (bebas dari plagiarisme). Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir makalah ini, saya bersedia
mempertanggungjawabkannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Jambi, September 2016
Yang menyatakan,
Dwi Wahyuni
NIM: A1F114029
BAB I
PENDAHULUAN
Di kehidupan ini vitamin sangat sering dibicarakan, mulai dari macam,
jenis, fungsi serta sumber vitamin itu sendiri. Namun masih ada masyarakat yang
awam dan belum mengerti tentang vitamin sehingga sering menganggap sepele pola
makanannya tanpa memperhatikan asupan nutrisi yang salah satunya adalah vitamin
yang menopang pertumbuhan dan perkembangan tubuh menjadi lebih maksimal. Bayak
yang masih belum menyadari dampak kekurangan vitamin yang sangat mempengaruhi
kesehatan yang merugikan tubuh.
Menurut Wikipedia (2016) vitamin adalah senyawa organic berbobot molekul
kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap
organisme. Karena itu vitamin memiliki peranan penting di dalam tubuh dan
memberikan mamfaat kesehatan. Bila kadar vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh
tidak tercukupi, tubuh akan mengalami suatu penyakit dan menganggung proses
kerja tubuh kita. Salah satu bentuk penyakit kekurangan vitamin adalah
defisiensi vitamin C yang begitu rentan terjadi di masyarakat dan anak usia
dini. Tentunya hal itu sangatlah tidak diharapkan, karena setiap orang
mengkhendaki agar keturunannya tumbuh dengan sempurna dan sehat, baik secara
fisik dan psikisnya.
Asupan vitamin haruslah menjadi perhatian untuk menjaga kesehatan. Jika
setiap orang sadar akan pentingnya vitamin untuk menghindari suatu penyakit,
pastilah setiap orang mampu tumbuh secara baik.
Masalah kekurangan vitamin selalu berkembang, sementara masalah
pengetahuan masyarakat tentang vitamin belum berkembang secara pesat. Mengingat
masalah kekurangan vitamin akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia dan
menentukan keberhasialan pembangunan dan kemajuan sebuah bangsa karena bangsa
yang maju juga akan maju di bidang kesehatannya.
Salah satu diantara vitamin-vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh adalah
vitamin C yang harus terpenuhi, sebab jika kebutuhan tubuh akan vitamin C tidak
dipenuhi akan mengakibatkan terjadinya gangguan tertentu pada tubuh.
1.
Apa definisi defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
2.
Apa penyebab defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
3.
Apa dampak defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
4.
Bagaimana cara menanggulangi defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
5.
Bagaimana cara mengatasi defisiensi vitamin C pada anak usia dini?
4.
Menganalisis upaya yang dapat dilakukan untuk menanggulangi defisiensi
vitamin C pada ank usia dini
5.
Menganalisis upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi terjadinya
defisiensi vitamin C pada anak usia dini
1.
Manfaat bagi penulis ialah mampu membagikan pendapatnya, pengetahuannya
dalam hal defisiensi vitamin C, untuk masyarakat disekitarnya baik itu
mahasiswa, guru, maupun orang tua anak usia dini.
2.
Manfaat bagi pembaca baik itu orang tua, guru, maupun mahasiswa dapat
menambah pengetahuannya tentang defisiensi vitamin C, untuk mencegah terjadinya
defisiensi vitamin C terhadap anak usia dini.
BAB II
PEMBAHASAN
Menurut DPN (2001) defisiensi
vitamin C berasal dari kata defision
yang berarti tidak sempurna atau kurang baik, vitamin yang artinya zat sangat
penting bagi tubuh manusia dan hewan untuk pertumbuhan dan perkembangannya, dan
vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air yang biasanya terdapat dalam
buah segar dan sayuran berwarna hijau. Dari hal tersebut dapat disimpulkan
secara bahasa defisiensi vitamin C merupakan suatu keadaan dimana tubuh manusia
kekurangan vitamin C yang penting bagi tubuh untuk tumbuh dan berkembang.
Menurut Puzeaa, P yang
menyatakan vitamin C terlihat seperti Kristal putih, yang merupakan sebuah asam
organic dan rasanya asam, namun tidak menimbulkan bau yang tak sedap. Dalam
larutan, vitamin C mudah rusak karena oksidasi oleh oksigen dari udara, namun
lebih normal jika terdapat dalam bentuk kristal kering.
Menurut
Vivi. T (2006) bentuk aktif vitamin C adalah asam askrobat yang berfungsi
sebagai donor ekuivalen produksi dalam sejumlah reaksi penting tertentu. Asam
askorbat itu sendiri dioksidasi menjadi asam dehidroaskrobat, yang dapat
bertindak sebagai suber vitamin tersebut.
Asam askrobat merupakan zat pereduksi dengan potensial hydrogen +0,008
V, sehingga mampu mereduksikan senyawa-senyawa seperti oksigen molekuler,
nitrat, dan sitokrom a serta c.
American
Collage Of Nutrition (2003) menunjukkan beberapa bukti bahwa vitamin C adalah
antioksidan yang sangat kuat dalam system biologi in vitro. Tetapi antioksidan berperan pada manusia tidak didukung
sekarang ini digunakan studi klinik. Nutrisi tinggi pada buah dan sayur
melindungi terhadap penyakit jantung dan urat-urat darah serta kanker, tetapi
efek melindungi tidak dapat dianggap berasal dari vitamin C. di dalam vivo penanda dari kerusakan oksidasi
telah ditingkatkan, dan ini belum menunjukkan perubahan besar dengan vitamin C
yang dikonsumsi manusia.
Menurut
Sukendro (2015) & Siswanto, H (2010) Vitamin C ditemukan oleh A.Sient,
P.Gyorgy dan G.King (1932). Vitamin C dapat dijumpai pada buah-buahan yang
berwarna seperti jeruk , tomat, papaya, dan sayuran hijau segar yang mempunyai
kadar rendah. Pada buah-buahan yang tergolong vitamin C terdapat dalam
konsentrasi yang tinggi pada kulitnya, pada bagian dalam buahnya agak lebih
rendah, dan pada bagian bijinya sangat rendah. Jika vitamin C dalam konsentrasi
yang cukup tiggi dapat mengurasi resiko terkena penyakit degenerative seperti
penyakit jantung koroner, kanker, hipertensi, dan diabetes mellitus, serta bisa
menghaluslkan kulit dan menunda proses penuaan.
”Menurut Departemen Gizi dan Kesehatan
Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (2010) angka kecukupan gizi vitamin C untuk bayi diperkirakan 35 mg dan
untuk orang dewasa adalah60 mg. “
Berikut ini tabel
angka kecukupan gizi pada vitamin C:
|
Golongan
Umur
|
AKG
(mg)
|
Golongan
Umur (pria)
|
AKG
(mg)
|
Golongan umur (wanita)
|
AKG
(mg)
|
|
0-6 bulan
7-12 bulan
1-3 tahun
4-6 tahun
7-9 tahun
|
30
35
40
45
45
|
10-12 tahun
13-15 tahun
16-19 tahun
20-45 tahun
46-59 tahun
Ø 60
tahun
|
50
60
60
60
60
|
10-12 tahun
13-15 tahun
16-19 tahun
20-45 tahun
46-59 tahun
Ø 60
tahun
Ibu
hamil Ibu menyusui:
0-6
bulan
7-12
bulan
|
50
60
60
60
60
50
+10
+25
+10
|
Tabel 1. Sumber:
LIPI, 1998
By: Ani, P
Dapat
disimpulkan definisi defisiensi vitamin C pada anak usia dini adalah kekurangan
asupan makanan yang mengandung vitamin C guna menjaga imunitas anak usia dini
yang rentan akan penyakit, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan
anak menjadi kurang maksimal.
1.
Penyebab
defisiensi vitamin C dibidang ekonomi
Ekonomi merupakan salah satu penyebab baik buruknya gizi anak
usia dini. Jika ekonomi seseorang mencukupi maka kebutuhan pokok yang
diperlukannya akan tercukupi. Namun, jika sebaliknya dimana ekonomi seseorang
itu rendah atau tidak mencukupi maka akan akan sulit untuk memenuhi kebutuhan
pokoknya. Ekonomi seseorang yang terbatas akan dapat menyebabkan defisiensi
vitamin C, karena kurangnya konsumsi buah-buahan yang segar, dan kurangnya
asupan sayuran-sayuran hijau.
Dilihat dari perkembangannya, defisiensi vitamin C menyerang
kalangan dengan ekonomi menengah kebawah.
Dari hal ini dapatlah disimpulkan jika ekonomi menjadi faktor penting yang
menyebabkan terjadinya defisiensi vitamin C selain faktor pendukung lainnya.
2.
Penyebab defisiensi vitamin C
dibidang pendidikan
Defisiensi vitamin C yang terjadi
pada anak juga disebabkan karena rendahnya pendidikan atau pengetahuan yang
didapat khususnya orang tua. Apabila orang tua tidak paham akan kebutuhan gizi
yang diperlukan si anak, maka akan berdampak buruk terhadap gizi anaknya.
Contohnya saja dalam hal memasak makanan, merebus sayuran , jika memasak atau
merebus terlalu lama dapat menyebabkan berkurangnya kandungan nilai gizi
makanan atau sayuran tersebut. Maka dari itu pendidikan dan pengetahuan sangat
penting untuk dibekali bagi setiap orang.
Pendidikan yang kurang tentang
pentingnya asupan gizi yang seimbang sangatlah perlu untuk menanggulangi
terjadi berbagai macam penyakit terutama defisiensi vitamin C. mengapa penting?
Hal ini dikarenakan jika telah terkena defisiensi vitamin C akan menyebabkan
system kekebalan tubuh menurun dan memudahkan tubuh terserang virus dan bakteri
pada pertahanan tubuh yang tidak kuat.
3.
Penyebab
defisinsi vitamin C dari pola makan anak
Anak usia
dini adalah anak yang memiliki pola makan yang unik. Mereka menyukai makanan
mulai dari segi bentuk dan rasa, tanpa melihat kandungan gizi di dalamnya. Pola
makan yang memilih makanan sesuai selera menjadi salah satu faktor yang
menyebabkan terjadinya defisensi vitamin C, dikarenakan buah dan sayur
merupakan makanan yang membutuhkan teknik khusus untuk dibuat menarik dan
memancing anak untuk mengkonsumsinya. Apalagi sayur hijau, kebanyakan dari anak
tidak menggemari sayuran hijau karena rasanya yang tidak sesuai selera mereka. Di
sini peran orang tua sangat besar guna membuat makanan yang sebenarnya penting
untuk tumbuh dan kembang anak menjadi menarik dan digemari oleh anak-anak.
Defisiensi
vitamin C akan berdampak pada aspek-aspek perkembangan anak, apabila asupan
vitamin C yang didapat anak sesuai dengan kebutuhannya, maka akan berdampak
baik pada aspek-aspek perkembangannya. Namun, jika asupan vitamin C tidak
memenuhi kebutuhan anak maka akan berdampak buruk pada aspek-aspek perkembangan
anak. Dan kemudian akan memberikan dampak penyakit-penyakit, antara lain:
1.
Skorbut
Menurut Salter diacu dalam Ani, P
Penyakit ini disebabkan kekurangan vitamin C (asam askorbat) dan menyebabkan
kekurangan sintesis kolagen, yang ditemukan pada anak yang berusia 6 bulan dan
satu tahun. Kasus defisiensi vitamin C ringan, yang memberikan gejala pada
jaringan gusi masih dijumpai dikalangan anak-anak sekolah.
Menurut
WHO (1991) skorbut pada
awalnya ditandai dengan kelelahan, kelesuan, sakit pada otot, atau menunjukkan
gejala alergi seperti terlihat perdarahan di permukaan kulit berbentuk
titik-titik kecil, disebut hemorrhagia
punctata, yang akan semakin lebar dan berbentuk bercak-bercak, disebut peteciha, dan dapat selanjutnya dapat
saling berkonfluensi menjadi ecchymosa.
Menurut
Sediaoetama, A. D (2008) Defisiensi vitamin C memberikan gejala-gejala penyakit skorbut.
Kerusakan terutama terjadi pada jaringan rongga mulut, pembuluh darah kapiler
dan jaringan tulang. Skorbut terjadi secara bertahap (sesudah beberapa periode
penipisan vitamin C).
“Menurut Ani, P adapun gambaran kliniknya adalah:
a.
Irritable, mudah marah
b.
Takipnea (pernapasan abnormal, cepat dan dangkal, > 60/ menit)
c.
Gangguan pencernaan (diare, berat badan menurun)
d.
Nyeri akibat pseudoparalisis dan kaki mengambil posisi kodok (khas),
dimana pinggul dan lutut zemi fleksi dengan kaki terputas keluar
e.
Pembengkakan anggota tubuh terutama paha
f.
Perdarahan subperiosteum (dapat diraba pada ujung femur)
g.
Perubahan pada gusi palingnya bila gigi tumbuh, ditandai dengan merah
keabu-abuan, pembengkakan seperti spon membrane mukosa, biasanya pada gigi susu
(insisivus) atas
h.
Angulasi (tonjolan) atau bercak scorbutic yang lebih tajam dari pada
rakhitis
i.
Pendarahan petekhiae dapat terjadi pada kulit dan membrane mukosa.
Humaturia, melena dan perdarahan orbital dan subdural dapat ditemukan
j.
Demam ringan biasanya ada
k.
Anemia dapat menggambarkan ketidak mampuan menggunakan besi atau
gangguan metabolism asam folat
l.
Penyembuhan luka tertunda.”
Dapat disimpulkan skorbut
merupakan penyakit yang menyerang pada rongga mulut yang terjadi secara
bertahap dan dapat menyerang anak usia dini.
2.
Sariawan
“Menurut simanjuntak &
Kristayanasari diacu dalam Ani, P sariawan (stomatitis) adalah radang pada rongga mulut (bibir dan
lidah) yang disebabkan oleh jamur Candida
albicans. Menurut Simanjuntak (Ani, 2016) Oral trush adalah lapisan atau bercak-bercak putih kekuningan yang timbul dilidah
yang dikelilingi oleh daerah kemerahan. Oral
trush/ sariawan terjadi karena disebabkan oleh hal berikut:
a.
Makanan/ minuman panas
b.
Traumatic
c.
Zat kimia”
Oral trush atau sariawan ini juga berbahaya jika merambat ke anak-anak.
Emosi yang dimilki anak akan menjadi tidak teratul karena oral trush yang
dideritanya. Bisa saja
dari Oral trush yang diderita anak dapat merambat kepenyakit-penyakit yang
lainnya. Jika anak terkena sariawan biasa anak akan menjadi rewel karena ada
yang menggala di dalam mulutnya. Oral trush ini harus segera diatasi agar
kondisi anak menjadi lebih baik kembali.
“Menurut Ani, P ada tiga jenis sariawan yang
sering menyerang anak:
a.
Stomatitis Aphtosa, yaitu sariawan yang terjadi akibat tergigit
atau luka karena terbentur dengan benda yang agak keras seperti sikat gigi.
b.
Oral trush/ monoliasis, sariawan yang disebabkan jamur candida
albican biasanya banyak dijumpai dilidah
c.
Stomatitik herfetik, yang disebabkan virus herpes simpleks dan
berlokasi dibagian belakang tenggorokan.”
Gambar 3. Penderita Penyakit sariawan
By: (Ani 2016)
3.
Gingivitis
“Menurut Ani, P gingivitis (radang
gusi) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri (Actinomyces, Fusobacterium, Veillonella) dan
organisme yang menempati sulkus gusi.”
Menurut
Sediaoetama, A (2009) defisiensi vitamin C menyebabkan berbagai dampak pada
jaringan lunak di dalam rongga mulut, sebagian bagian dari dampak sistematis.
Dampak terjadi pada jaringan lunak gingiva dan tidak pada dinding rongga mulut
lainnya maupun pada lidah. Serat-serat yang mengikat radix dentis ke dinding
alveolus menjadi putus, maka kedudukan gigi menjadi goyah, bahkin gigi dapat
lepas. Pada kondisi sehat, gingival berbentuk licin mengkilap berwarna
kemerahan, dengan ujung kapila berbentuk tajam. Pada defisiensi vitamin C yang
ringan, papila ini akan terlihat hyperemic dengan kapiler darah yang melebar
dan berdinding tipis, dapat menyebabkan mudah berdarah saat tekanan ringan. Di
saat kondisi lebih berat, papilla akan menderita infeksi hingga bernanah dan
menjadi pendek, bahkan dapat menyebabkan gangguan berbentuk gangraen yang
memberikan bau yang busuk atau tak sedap.
Menurut Dalimunte diacu dalam Ani, P Secara umum penyebab
penyakit gingival ada dua golongan, yaitu:
a. Faktor
local adalah faktor yang berada disekitar gigi, contoh: plak bakteri-karang
gigi, partikel makanan yang melekat pada gigi maupun gingival, karies didekat
gingival, kebiasaan merokok, dan trauma.
b.
Faktor sistemik adalah faktor yang dihubungkan dengan kondisi tubuh,
dapat perpengaruh pada respon periodontium penyebab local. Contoh: faktor
hormonal, defisiensi vitamin, mineral protein penggunaan obat-obatan, faktor
psikologis.
Berikut ini
gambar penyakit gingivitis yang menyerang jaringan lunak dalam rongga mulut:
Gambar 4.
Gingivitis margaiis karena plak
By: (Ani, 2016)
Gambar 5.
Papilla-papila berkawah: Gingivitis Ulseratif Akut Nekrosis (ANUG)
By: (Ani, 2016)
Gambar 6.
Gingivitis Hormonal pada Wanita Pubertas
(By: (Ani, 2016)
Jadi dapat
disimpulkan gingivitis adalah penyakit gusi meradang yang terjadi karena
kekurangan vitamin C dan dapat ditemukan pada Anak Usia Dini.
4.
Gusi
berdarah
“Menurut Winarno diacu
dalam Ani, P yang mengatakan gejala
defisiensi vitamin C pada rongga mulut ditandai dengan adanya gusi berdarah.
Meskipun gejala ini haruslah dapat dibedakan dengan penyakit gusi lainnya yang
dapat juga menimbulkan pendarahan pada gusi. Jaringan penyambung gusi sebagian
besar terdiri dari serat kolagen yang tersusun rapi keberbagai arah yang akan
menyangga gigi dengan baikselama berfungsi. Untuk mempertahankan struktur gigi yang
sehat maka diperlukannya ikatanyang erat antara jaringan yang menyusun struktur
gigi tersebut.”
Gusi
berdarah mungkin sering kita temukan termasuk anak-anak. Terkadang gusi
berdarah juga disebabkan karena menyikat gigi yang kurang hati-hati. Anak-anak
kecil seharusnya harus diawasi dalam hal menyikat gigi, agar bisa menghindari
kejadian gusi berdarah.
5.
Pewarisan
pembekuan darah
Menurut
Griffin, dkk keluarga
dengan sejarah pembekuan darah telah dipelajari untuk menentukan jika
kekurangan protein plasma dapat menjadi alasan untuk penelitian penyakit ini.
Tingkat vitamin C dalam plasma telah ditentukan ilmu kekebalan tubuh dengan
mengunakan teknik roket Laurell. Usulan ayahnya, dan paman pihat ayahnya seseorang dengan masing-masing pengaruh,
memiliki 38%-49% level normal dari antigen vitamin C, dimana tidak mempengaruhi
keluarga kekurangan antithrombil III dan plasminogen. Karena zat aktif vitamin
C manjur dalam vitro anti-zat
pembekuan dan pada sebuah in vivo profibrinolitik
agen, ini dianjurkan bahwa penyakit pembekuan darah kambuh di dalam keluarga adalah warisan dari defisiensi vitamin C.
Jadi
pembekuan darah ada kemungkinan menurun kepada anak yang penyebab awalnya
tinggat vitamin C dalam plasma menurun.
1.
Mengkonsumsi
buah-buahan segar yang mengandung vitamin C
Buah-buahan sangat penting untuk
asupan vitamin manusia. Sumber utama dari vitamin C ialah buah-buahan segar dan
juga berupa minuman sari buah. Jeruk merupakan sebagian bahan utama pembuatan
sari buah setelah anggur. Buah jeruk mengandung asam sitrat, dan tak diragukan
lagi kalau yang diandalkan dari sari buah jeruk adalah vitamin C. Namun,
vitamin C dalam kemasan sari buah bisa mengalami kerusakan karena kandungan
residu oksigen yang tinggi sehingga vitamin tersebut teroksidasi menjadi bentuk
lain. Temperatur penyimpanan yang tinggi
dapt juga merusak vitamin C.
|
Bahan Makanan
|
Mg
|
|
Jambu monyet
Gandaria
Jambu biji
Papaya
Mangga muda
Rambutan
Durian
Kedondong
Jeruk manis
Mangga masak
Jeruk nipis
Nanas
|
197
110
95
78
65
58
53
50
49
41
27
24
|
Tabel 2.
Daftar Analisis Bahan Makanan
By: Ani, P
2.
Mengkonsumsi
sayuran-sayuran hijau
Selain dari
buah-buahan, sayuran juga penting bagi asupan vitamin C anak, agar
anak-anak dapat terhindar dari defisiensi vitamin C. Berikut ini ada jenis sayuran
yang baik untuk asupan nilai gizi
vitamin C ke anak, yaitu:
Table.
Nilai Vitamin C berbagai bahan makanan
dalam 100gr
|
Bahan Makanan
|
Mg
|
|
Daun singkong
Daun katuk
Daun melinjo
Daun papaya
Sawi
Kembang kol
Bayam
Kol
Kemangi
Tomat
Kangkung
Ketela pohon
|
275
200
150
140
102
65
60
50
50
40
30
30
|
Tabel 3.
Daftar Analisis Bahan Makanan
By: Ani, P
3.
Mengkonsumsi
suplemen vitamin C
Menurut
Penelitian Bailey at al (2011) suplemen bernutrisi meningkat penggunaannya
sejak 1970. Pengguanan suplemen diukur dengan kuisioner dan laporan dari 49% dari warga Amerika (44% pria, 53 %
wanita).
Vitamin C
banyak dijual dalam bentuk suplemen yang memiliki sebagian dari kekayaan
antioksidan. Vitamin C salah satunya diatur oleh suplemen untuk kesehatan
manusia memperlihatkan prooksidan sama baiknya dengan anti oksidan.
Berdasarkan
penelitian Division of
Chemical Pathology University of Leicester LE1 9NH (1998) telah
dilaksanakan sebuah studi yang
menyertakan 30 relawan yang sehat (16 wanita dan 14 pria dengan umur antara 17
hingga 49 tahun) yang mengkonsumsi suplemen vitamin C sebanyak 500 miligram per
hari selama 6 minggu. Penilaian
tingkatan kerusakan oksidasi pada
darah kelenjar getah bening dalam hubungan dengan modifikasi berbasis DNA. Pada
level 8-oxoguanine ditemukan pengaruh suplemen relative untuk kedua placebo
(kalsium carbonat; 500 mg per hari selama 6 minggu) dan garis dasar ukuran, di
mana pada level 8-oxoadenine meningkat. Untuk setiap relawan diambil sampel
darah tiap 3 minggu pada 12 minggu.
Suplemen majana dengan 500 mg vitamin C per hari menunjukkan peningkatan
signifikan pada ascrobate level pada plasama (hingga 60%) sebanding dengan
sebelum pemberian suplemen dan kematianplacebolam placebo. Perbedaannya, tidak
ada perubahan pada konsentrat askrobate selama waktu terapi oral placebo
dibandingan dengan hukum garis awal. Walaupun antioksidan alami vitamin C masih
dipertanyakan di dalam vivo, namun suplemen dengan dosis vitamin c 500 mg per
hari sama seperti antioksidan. Peneliti telah menemukanpeningkatan potensial
mutagenic luka, 8-oxoadnine, mengikuti tipikal suplemen vitamin C untuk itu
perlu diperhatikan, walaupun pada dosis sedikt dari 500 mg per hari efek
antioksidan mungkin lebih mendominasi.
Disini
bisa ditarik kesimpulan bahwa penggunaan suplemen vitamin C dengan kadar yang
tepat dan baik bagi tubuh. Sehingga sebelum mengkonsumsi suplemen vitamin C
hendaklah berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter.
Menurut Ani, P yang
mengatakan
penanggulangan yang dapat dilakukan oleh pemerintah
dan masyarakat untuk menanggulangi permasalahan defisiensi vitamin C ialah:
1. Riskedes
(Riset Kesehatan Dasar) 2007, membuat kartu peraga dalam rangka program
Indonesia sehat 2010.
2. Kampanye/
sosialisasi. Sosialisasi Angka Kecukupan Gizi (AKG) Indonesia 2013, diadakan
oleh Balitbangkes, KemenKes RI.
3.
Membuat World
Food Programme, terutama untuk wilayah Indonesia diluar pulau Jawa. Pemerintah
menjalin antar badan nasional (Bappenas, BPS), lembaga akademik
(LIPI<IPB)< badan swasta (unilever), swadaya pangan/ pemberian bahan pangan,
memperkuat kapasitas Indonesia dalam pemantauan, analisis dan pemetaan
ketahanan pangan.
6. Menyarankan
masyarakat untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin C dalam bentuk
asli, baik itu diolah maupun berbentuk suplemen. Dan perlunya diadakan inovasi
dalam cara penjualan buah dan sayuran.
Dengan adanya solusi dari pemerintah dalam
mengatasi defisiensi vitamin, setidaknya dapat mengurangi penderita defisiensi
vitamin C tersebut. Dan kesehatan masyarakat bisa lebih membaik dari
sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
Defisiensi
vitamin C pada anak usia dini merupakan kurangnya asupan vitamin C yang didapat
anak. Yang disebabkan oleh faktor ekonomi, pendidikan, dan pola makan. Apabila
anak kekurangan vitamin C, tentu mempunyai dampak yang buruk terhadap
aspek-aspek perkembangannya dan selanjutnya akan menimbulkan penyakit seperti,
skorbut, sariawan, gingivitis, gusi berdarah, dan pewarisan pembekuan darah. Untuk
cara mengatasi defisiensi vitamin C ada beberapa cara yang telah dilakukan oleh
pemerintah. Dan untuk cara menanggulanginya, penderita dapat mengkonsumsi
buah-buahan segar dan sayuran hijau, serta mengkonsumsi suplemen vitamin C
sesuai anjuran dokter.
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menjadi sumber
referensi bagi pembaca dalam menambah pengetahuan tentang Defisiensi Vitamin C pada Anak Usia
Dini.
DAFTAR PUSTAKA
(DPN)
Departemen Pendidikan Nasional. (2001). Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
American
College of Nutrition. (2003). Vitamin C
as an Antioxidant: Evalution of Its Role in Disease Prevantion. America:
Journal of the American Collage of Nutrition, Vol. 22, No 1, 18-35.
Bailey, Et.
Al. (2011). Dietary Supplement Use in the
United States, 2003-2006. America: American Society for Nutrion. doi: 10.
3945/JN. 110. 133025.
Departemen
Gizi dan Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia. (2010). Gizi dan Kesehatan
Masyarakat. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Division of
Chemical Pathology University of Leicester LE1 9NH. (1998). Vitamin C Exhibits Pro-Oxidant Properties.
UK: Nature Vol 392.
Griffin
J.H., B. Evatt, T. S., Zimmerman, A. J., Kleiss., & C. Wideman. (1981). Deficiency of Protein C in Congenital
Thrombotic Disease. America: J. Clin. Invest. The American Society For
Clinical Invertigation, Inc 0021-9738/81/11/1370/04 Vol. 68, 1370-1373.
Khomsan, A.
(2010). Pangan dan Gizi untuk Kesehatan.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Muchtadi, D.
(2011). Gizi Anti Penuaan Dini.
Bandung: Alfabeta.
Sediaoetama, A. D. (2008). Ilmu Gizi (jilid I). Jakarta: Dian
Rakyat.
Sediaoetama,
A. D. (2009). Ilmu Gizi (jilid II).
Jakarta: Dian Rakyat.
Siswanto, H. (2010). Pendidikan
Kesehatan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Pustaka Rihama.
Vivi, T.
(2006). Macam-Macam Vitamin Dan Fungsinya
Dalam Tubuh Manusia. Studi Literatur. Jurnal Kesehatan Masyarakat, I (1)
(WHO) World
Health Organization. (1991). International
Nomenclature Of Diseases. Geneva: Methabolic, Nutritional, and Endocrine
Disorders Vol IV World Health Organization. 1991, p. 283.